Buku “Harus Bisa” Seni memimpin ala SBY, merupakan kumpulan catatan
harian DR. Dino Patti Djalal yang pada saat itu menjabat sebagai Staf
Khusus Presiden bidang Hubungan Internasional/ Juru Bicara Kepresidenan.
Dr. Dino bisa merupakan seorang yang beruntung dapat mengenal secara
lebih dekat dengan Presiden SBY dikarenakan Dr. Dino termasuk sebagai
jajaran lingkaran “orang dalam” kepresidenan.
Mengenai latar belakang penulisan buku ini disampaikan penulis pada kata pengantar buku,
“Ide
untuk menulis buku ini datang ketika suatu hari saya membersihkan meja
kerja saya, dan menemukan sekumpulan nota-nota tulisan tangan SBY yang
tersimpan di laci. Presiden SBY biasa menulis nota-nota ini dalam rapat
kabinet kepada menteri dan stafnya, umumnya berisi instruksi,
klarifikasi atau meminta carikan informasi. Ketika membenahi nota-nota
ini saya langsung sadar bahwa ini bukan arsip biasa: ini adalah sidik
jari era politik penting yang kelak akan dipelajari di sekolah dan
kampus. Dan sdik jari SBY ada di mana-mana: dalam berbagai
keputusannya,pidatonya, gebrakannya, pikirannya, tindakannya, konflik
batinnya, semua ini adalah jejak-jejak sejarah yang masih segar di depan
mata. Dari sinilah timbul gagasan untuk membuat catatan harian untuk
merekam peristiwa-peristiwa di Istana” dan semenjak itulah penulis
senantiasa membuat catatan hariannya bekenaan dengan aktivitas dan
kehidupan sehari-hari Presiden SBY.
Terlahir di Yugoslavia, 10 September 1965, Dr. Dino Patti Djalal
sejak tahu 2010 hingga saat ini adalah seorang Duta Besar Indonesia
untuk Amerika Serikat. Dr. Dino lahir dari pasangan Hasyim Djalal (ayah)
dan Jurni (ibu). Ayahnya, Hasyim Djalal adalah juga merupakan seorang
diplomat Indonesia ternama. Dino cukup sering mengikuti ayahnya yang
bertugas sebagai diplomat sehingga sudah tidak diragukan lagi kemampuan
diplomasinya.
Dalam buku catatan harian ini menuliskan dengan cukup detail setiap
aktivitas dan suasana yang dialami Presiden SBY selama menjalankan
pemerintahan yang kesemuanya seolah tergambar dengan jelas bagaimana SBY
berbicara, bertemu, berinteraksi dengan orang lain baik itu anak-anak,
pejabat negara, kepala negara, dan bahkan sekjen PBB. Tindakan-tindakan
spontan SBY, kedisiplinannya, integritasnya dan prinsipnya yang dengan
teguh dipegang semua tertuliskan dengan paripurna oleh Dr. Dino.
Buku ini dibagi menjadi 6 bagian besar yang dalam setiap bagiannya
dituliskan tentang berbagai aktivitas SBY, keenam bagian itu adalah
antara lain yaitu (1) Memimpin dalam Krisis. (2) Memimpin dalam
Perubahan (3) Memimpin Rakyat dan Menghadapi Tantangan (4) Memimpin Tim
dan Membuat Keputusan, (5) Memimpin di Pentas Dunia dan (6) Memimpin
Diri Sendiri.
Dalam bagian pertama yaitu bab “memimpin dalam krisis” dijelaskan
bagaimana respon SBY yang cepat tanggap dan real time menghadapi
berbegai permasalahan yang bersifat kritis dan membutuhkan keputusan
cepat untuk dipecahkan. Sebagai contohnya Presiden SBY yang langsung
tangan memimpin segenap pejabat dan masyarakat DI Aceh saat terjadi
musibah tsunami yang terjadi pada tahun 2005 yang lalu. Dari sini kita
bisa mengambil pelajaran bahwa seorang pemimpin harus dapat berperan di
garda terdepan terutama pada saat-saat krisis.
Pada bagian “memimpin dalam perubahan” diceritakan gebrakan Presiden
SBY dalam mendobrak pintu-pintu brokrasi yang berkepanjangan sehingga
dapat mempersingkat alur birokrasi di Indonesia
Lalu dalam bab “memimpin rakyat dan menghadapi tantangan” diceritakan
aktivitas Presiden SBY yang proaktif “terjun” kepada rakyat untuk
mendengarkan keluhan-keluhan rakyat secara
common touch.
Dalam bab “memimpin tim dan membuat keputusan” penulis memaparkan
cara dan gaya kepemimpinan SBY yang lebih suka untuk memilih sendiri
setiap anggota kabinet yang akan serta mensuksekan kepemimpinannya.
Presiden SBY juga sangat peka terhadap timing, SBY tidak terburu-buru
terhadap publik yang selalu menekannya untuk mengeluarkan suatu
pernyataan. Presiden SBY juga selalu mengikuti sense politiknya ketika
menentukan antara menerima tawaran menyanyi atau mengunjungi Mantan
Presiden Soeharto yang sedang kritis dalam rumah sakit.
Kemudian pada bab selanjutnya yaitu, “memimpin di pentas dunia”,
Presiden SBY berhasil menunjukkan bahwa SBY merupakan pemimpin yang
patut diperhitungkan di kancah Internasional. SBY berhasil beberapa kali
menggelar suatu forum-forum strategis seperti UNCCC (United Nations
Climate Change Conference) dan KAA (Konferensi Asia Afrika) yang telah
lama tak terlaksanakan.
Lalu pada bab terakhir “memimpin diri sendiri” penulis menampilkan
foto Presiden SBY yang sedang duduk didampingi Menlu Hassan Wirajuda di
Ruang Sidang OKI di Senegal dengan ruangan yang masih lengang
dikarenakan hanya baru Presiden SBY yang datang, dan kedatangan Presiden
SBY ini merupakan kedatangan yang tepat waktu.
Buku ini ditutup dengan epilog penulis yang berisikan peran seorang
SBY dalam hidup penulis yakni tidak hanya sebagai Presiden atau kepala
negara akan tetapi juga sebagai atasan, sahabat dan mentor.
Secara umum tidak ada banyak kekurangan dari penulisan buku ini.
Sehingga dapat saya rekomendasikan kepada segenap pembaca bahwa buku ini
memang bagus dan benar-benar layak untuk pembaca.
https://avissenamuhammad.wordpress.com/categoryliputan/